Dorohedoro dan Ekspektasi Kekerasan

Seorang manusia berkepala kadal memasukkan kepala seorang penyihir ke dalam mulutnya. Lalu sebuah kepala manusia akan mengucapkan satu hal, “Bukan kamu.” Rekan penyihir yang lain mencoba melawan dengan mengeluarkan debu sihir dari ujung jarinya, tapi manusia kadal itu tidak mempan dengan debu itu. Perempuan berambut pirang berlari dan segera mematahkan jari penyihir. Dan ketika mulut hijau melepaskan rahangnya dari kepala penyihir, dia bertanya, “Woy, apa yang orang di dalam mulutku bilang?” “Bukan kamu.” Dan manusia kadal itu segera membunuh penyihir itu dalam tebasan berkeping-keping, sebelum potongan jari penyihir mengeluarkan debu untuk menyelamatkan rekannya. Dan manusia kadal bernama Kaiman dan teman rambut pirangnya, Nikaido, harus melepaskan penyihir itu. “Sial!”

Tidak banyak adegan di awal episode pertama anime yang bisa menarik perhatian penuh penonton. Jika kamu penonton anime reguler, kamu tahu episode pertama jarang menentukan apa-apa. Akan tetapi jika ada adegan awal yang bisa kamu ingat di episode pertama sebelum lagu opening mulai, maka anime tersebut berhasil menyita perhatianmu (salah satu yang sangat kuat adalah adegan awal Attack on Titan season pertama epidose 1 “To You, After 2000 years”: adegan burung terbang, waktu seperti terhenti, dan tangan merah besar titan di balik tembok). Meskipun efeknya tidak terlalu dominan, adegan di awal episode pertama anime Dorohedoro ini adalah salah satu pembuka yang solid: cepat dan efektif. Dia menyimpan misteri yang menjadi penunjuk plot cerita (“Siapa laki-laki di dalam mulut Kaiman?”) dan juga memberikan sedikit cuplikan tentang nuansa anime ini: absurd violence.   

The Dorohedoro anime announced to be one 12 episode cour : Dorohedoro

Di awal tahun 2020, penonton anime dibuat mengharubiru (jika ini ekspresi yang tepat) dengan Dorohedoro yang merupakan adaptasi dari manga berjudul sama. Hayashida Q, mangaka Dorohedoro, memulai publikasi manga ini di akhir 1999 awal 2000, dan berakhir di tahun 2018 dengan 23 volume. Sebagian komunitas pembaca manga melihat proses pengerjaan manga yang panjang ini dengan decak kagum, karena hasil gambar, cerita, bangunan dunia, dan humor di tiap chapter selalu memuaskan. Pun mereka sering menduga-duga sekaligus menobatkan manga ini sebagai salah satu yang paling sulit diadaptasi menjadi anime. Maka ketika studio anime MAPPA memproduksi anime ini dan akhirnya tayang di musim dingin, series baru ini disambut dengan antusiasme. Sutradaranya, Hayashi Yuichiro, bersama dengan beberapa key animators membuat dunia manga Dorohedoro hidup dan tidak kalah menariknya dari manga. (Jangan pernah bertanya ke saya apakah adaptasi animenya sesuai dengan manga. Pertanyaan itu membosankan).

Dorohedoro menceritakan tentang Kaiman, manusia berkepala kadal, dan teman perempuannya Nikaido yang sedang mencari tahu siapa penyihir yang mengutuk Kaiman sehingga kepalanya berubah. Keduanya ini tinggal di dunia semi post-apocalyptic bernama Hole yang di awal cerita menjadi tempat para penyihir bereksperimen dengan kekuatannya. Hole sendiri digambarkan sebagai kota reruntuhan, abu-abu, dengan banyak lorong dan sudut gelap. Penyihir dari dunia lain dengan mudahnya dapat pergi ke Hole dan “bermain-main” dengan tubuh manusia. Dan efek debu sihir hitam yang dikeluarkan oleh penyihir tidak hanya memengaruhi manusia tapi juga lingkungan Hole. Hujan menjadi salah satu bencana bagi mereka yang tidak punya kekebalan terhadap sihir. Namun kondisi Hole yang terlihat menyedihkan ini menyimpan kejenakaannya sendiri: Nikaido masih bisa membuka warung makan dan memasak gyoza andalannya, dan Kaiman bekerja paruh waktu di rumah sakit untuk membantu mengurus manusia-manusia yang bentuk tubuhnya sudah tidak karuan terkena sihir.

Dari Hole, Kaiman dan Nikaido harus berhadapan dengan para penyihir dengan struktur hirarki yang absurd. Penyihir yang selamat dari serangan Kaiman dan Nikaido ingin membalas dendam kematian temannya, dan kemudian beraliansi dengan En, salah satu penyihir terkuat, dan anak buahnya, Shin dan Noi. Kabar soal Kaiman dan Nikaido sebagai pemburu penyihir membuat mereka tertarik untuk mencari misteri di balik kekebalan Kaiman dan kekuatan Nikaido. Dengan gerak cerita yang cepat, Dorohedoro membangun relasi dunia Hole dan Penyihir yang menarik—aliansi dan kontrak dengan setan, misteri penyihir bocah bernama Ebisu yang mengutuk Kaiman, dokter di rumah sakit Hole yang menyelamatkan Shin.

Kekerasan dalam bentuk pembunuhan dan mutilasi memang mendominasi Dorohedoro, namun yang perlu dicatat dengan hati-hati, dia tidak pernah menjadi sesuatu yang betul-betul mengerikan. Humor selalu hadir bersamanya. Hayashida Q sebagai mangaka memang memiliki selera humor yang baik. Humornya tidak sok pintar, dan lebih mengandalkan celetukan-celetukan konyol percakapan sehari-hari. Di animenya, eksekusi humor ini sangat didukung dengan karakter yang sering bergerak acak dan serampangan. Bahkan dalam adegan yang bisa membuat kita ngeri sekalipun, kita bisa sedikit berdecak geli dengan kelakuan karakter-karakternya. Lalu bagaimana caranya kita memahami kekerasan absurd dalam Dorohedoro?

Petunjuk kita bukan Kaiman atau Nikaido atau En atau Shin maupun Noi. Tetapi Fujita dan Ebisu, dua penyihir kacangan yang mendapati diri mereka di tengah konflik antar orang-orang kuat. Karakter “basic” anime di mana seorang protagonis laki-laki ingin menjadi lebih kuat (Fujita), ditemani dengan perempuan lucu manis (Ebisu), bukanlah karakter utama di dalam Dorohedoro, meskipun kehadiran mereka cukup menjadi penentu. Dalam lingkar keluarga En, Fujita dan Ebisu hadir untuk menunjukkan sisi konyol dan emo kekerasan. Karakter-karakter utamanya adalah mereka yang sudah terlalu kuat dan bisa melakukan banyak hal untuk bertahan hidup. Sedangkan Fujita dan Ebisu bernaung di bawahnya. Kekerasan absurd bukan hanya pada level potongan tubuh bagian mana yang kali ini lepas, tapi pada penyihir mana yang menangis karena sudah lapar lagi padahal baru saja makan. Tentu dalam kehidupan nyata, mutilasi adalah hal yang sangat mengerikan. Dorohedoro tidak menyangkal itu (digambarkan dalam komedi slapstick Fujita dan Ebisu yang gampang mual melihat Shin atau Noi membantai musuhnya). Namun konteks dunia Dorohedoro membuat kekerasan menjadi kekonyolan. Mundane. Banal.  

Rasanya terlalu jauh untuk memikirkan apakah kekerasan dalam Dorohedoro menormalkan aksi itu. Kekerasan absurd dalam Dorohedoro menjalankan plot misteri dan bangunan relasi antar karakter. Dan sesungguhnya yang bisa menjadi perhatian bukan kekerasan dalam bentuk pembunuhan, tapi kekerasan yang lebih subtil: kemiskinan dan kerusakan ekosistem di dunia Hole. Kalau adegan mutilasi di Dorohedoro menjadi fokus utama kita, kita sebenarnya melewatkan Hole sebagai tempat di mana Kaiman menjadi “korban” uji coba. Kelindan dunia Hole dan dimensi Penyihir juga sejarah di mana kedua kelompok saling memburu satu sama lain memberikan fondasi penting soal kekerasan sebagai siklus melampaui aksi bunuh membunuh. Inilah salah satu hal yang membuat saya berpikir bahwa Dorohedoro menjadi salah satu anime baru terbaik musim dingin kemarin (selain juga absennya kekerasan seksual di anime ini): di balik kekerasan absurd adalah kekerasan yang riil.

Kekerasan, betapapun absurdnya, akan selalu mengganggu. Penggambarannya dalam visual anime tentu memiliki lapisan-lapisannya sendiri. Dorohedoro paling tidak memberikan kita ruang untuk menertawakan dan mengejeknya. Jika pengulas anime pada umumnya melihat Dorohedoro sebagai cerita tentang pertemanan, saya sepakat. Tapi pertemanan ini lahir dari dunia di mana darah, daging, dan tulang berceceran di jalan dan tembok kota puing-puing. Loyalitas Kaiman/Nikaido atau Shin/Noi tidak hadir di ruang damai–terus menerus bergerak ke mana konflik membawa mereka. Dan bersama dengan jamur-jamur En (hehehe), kita bisa sedikit bermabuk dalam dunia abu-abu Dorohedoro.

Opening Dorohedoro

Lima Puisi Soal Jebakan Betmen Bernama Hidup/Lyfe

Lima Puisi Soal Jebakan Betmen Bernama Hidup/Lyfe

picture taken by Nike

a bad poem at twenty-eight

i play hours of mindless game to get by.
sing nggawe game e nggapleki.
procrastinating, a weapon of the not-so weak.
my work is waiting, it surely can wait.
i dance to my lover’s whistle.
“my baby girl cute! cute! lalalala mirai e”
i kiss my bestfriend because she is
crying for cried too much
longing for the past I’ve never had.
reading is not for the intellectuals.
books stacked. mascarpone, 
no mascara. tick-tock which series of time.
searching for the-ways-in-which.
dream nothing,
wishful whispering.

Koi-Koi Elektrik

coba kita ingat sepertiga malam di Saidi. gak nyebrang kejauhan, kita pergi ke jepang. dengan celana lari warna hitam dan kaus putih kebesaran, kita merambat ke atas menara televisi di Tokyo. makan tokyo banana. mampir kejauhan di sinshaibashi. ada banner lelaki memakai jumpsuit yang kukira sedang berdansa way-em-si-ey. vey bilang mau kemana sih mau kemana, kita di sini aja kita di sini aja, tapi dedaunan yang dirawat bu tina berubah jadi sawit. bibirku gemetaran, dan aku bisa melihat bayi-bayi orangutan yang kehilangan ibu memelukku. seketika badan terhampar selayaknya papan cucian di pinggir kali. gemetar. akhirnya diselamatkan koi elektrik lampu neon yang kurasa juga seorang drag queen dengan nama Jizzney Princess. beberapa kali kudengar kepalaku memaki diri sendiri, makanya yang natural-natural aja goblok.

Yaudahdeh

Credit title: EA Haloho

Yang terjadi sebelum kepanikan selama 14 jam adalah
pasokan satu pak silet merk entah apa dijual Rp 500 rupiah sebuah
seprai basah karena darah, membangunkan nyawa yang menolak pergi
ia mengejekku, “Kayaknya lo emang bego aja sih,” angkuh.
penyayi pop bohong waktu mereka bilang yang tak mebunuhmu membuat lebih kuat
oke, pertama itu bukan Kelly Clarkson, itu Nietzsche
duh siapa peduli sih, malah it makes them both a liar
tapi yang terjadi justru—ketika nadimu gagal putus, kamu lahir
menjadi orang yang baru; bergelantungan di atas gedung, 150 meter tingginya
kaki ke atas dan tertawa-tawa entah karena apa
seseorang memanggil ambulans
buat apa? mending panggil GoFood atau GoMassage
bisakah kepalaku di GoClean?

Flu pilek

My nose runs like a flood. Reddish but not Rudolph the reindeer. Paracetamol these days are weak. I always remember my mama, who doesn’t want to treat me like a kid. Sana makan minum obat. My face muscle hurts. And the buzzing on the right ear …. Listen to the heavy inhale, open the mouth a bit, someone needs to breath properly. Why is it hard to sleep. Oh right someone on twitter posting their failure so they can brag about their professionalism accepting rejection. Lol what a spoiled brat. Why do I need to do all this, working until four, trying to be sane. Sayang, istirahat. No I can’t, I … *sneezing* lemon shot bam bam bam. 

Peratap Muram yang Sendu (PMS)

bangun 4:30 pagi lalu tertidur lagi karena
-2 derajat celsius tak pernah pada
Punggungku
ingin Ingin sekali mengerjakan banyak hal
Pertanyaan demi pernyataan
ibu, aku kangen
naik CTA untuk menyendiri dan menyadari
kalau jendela kereta bukan video music
di mana kamu berlari di gorong-gorong
dan ada sosok yang menyelamatkanmu
manakah lelah yang lebih lelah
selain mendengar seorang suami memukul
istrinya karena mereka tak ada uang
adakah yang lebih dari air mata
ketimbang tetesan darah petani
mati diseret pasar saham dan spekulan
yang lebih dari semua itu adalah menjalaninya
sepi adalah pulang tanpa pandanganmu
setelah sebotol pilsener 600 ml buyar dalam ingatanku
cikini 1, componistenpad, angsana 428, west fargo av.,
dari rimba sawit ke hamparan rawa aligator di selatan sana
aku tidak mau semua ini berakhir
karena ketiakmu adalah cumbuku
dan yang kita butuhkan adalah waktu