Attack on Titan & Memori yang Menubuh

Dua chapter lagi, dan Hajime Isayama akan mengakhiri seri manga Attack on Titan yang telah menghibur (dan membuat depresi) para pembacanya. Dan saya tidak sabar menunggu seri ini berakhir dan segera beranjak dari segala perbincangan soal AoT. Saya bukan orang yang paling tepat untuk membicarakan AoT secara mendalam, pun juga bukan penggemar garis keras yang marah-marah di twitter karena animasi MAPPA tidak sesuai ekspektasi (gosh this debate was awful). Saya juga bukan orang yang menonton AoT untuk mengkait-kaitkannya dengan dunia nyata termasuk membacanya dalam kacamata semantik. Sudah banyak yang membahas soal itu, dan salah satu kesukaan saya, tulisan di animefeminist yang mengkritik persoalan simbolik Nazi dan Yahudi yang muncul di AoT.

Maka, tulisan ini dibuat untuk melengkapi dan sedikit merevisi tulisan saya di The Conversation yang menghilangkan banyak sekali nuansa dan kompleksitas cerita yang ingin saya sampaikan. Proses editorial yang tidak sejalan dengan cara saya menulis dan tujuan The Conversation sebagai media tidak dapat mengakomodasi apa-apa saja yang muncul di kepala saya selama delapan tahun mengikuti AoT, dengan segala naik turunnya. (cue ego wibu).

Cerita yang baik adalah cerita yang membuka pintu dan jendela untuk kita mempertanyakan banyak hal. Terlepas dari banyaknya tema yang bisa ditulis tentang AoT, saya ingin membahas satu tema penting yang menurut saya adalah fundamental untuk memahami AoT secara utuh, yaitu memori yang menubuh. Saya ingin membahas tema ini melalui eksplorasi tentang garis waktu dan proses “trans-titan,” yaitu pemindahan kekuatan titan dari satu tubuh ke tubuh lain, termasuk memori individual yang memiliki kekuatan itu. Menurut saya, pembahasan tentang penubuhan memori ini bisa mengajak kita untuk kembali melihat relasi tubuh dengan dunia yang ditinggali, keterhubungan tubuh/jiwa yang termaterialisasi, juga soal konflik narasi sejarah yang muncul sebagai konsekuensi dari relasi tersebut.

AoT bukan tanpa masalah. Cerita militerisasi Paradis tentu menarik perhatian para kelompok sayap kanan dan ultra-nasionalisme. Tidak sedikit bahkan yang menuduh Hajime Isayama sebagai penulis propaganda yang menjustifikasi imperialisme Jepang. Tanpa menyangkal kekhawatiran penggemar terhadap konsekuensi politik AoT, saya lebih ingin mengajak kita berfokus ke hal lain yang menurut saya lebih menarik. AoT, sama seperti novel dan karya sastra lainnya, adalah cerita terbuka yang memungkinkan pembacanya untuk melahirkan interpretasi dan bertanya.


That day the human race remembered … the terror of being dominated by them … and the shame of being held in captive in a birdcage.

Dan mata Eren Jaeger menatap titan yang baru saja menghancurkan Tembok Maria.

Chapter pertama manga AoT “To You, 2,000 Years From Now” dimulai dengan krisis di tembok terluar kota Paradis, krisis yang kemudian menghantar Eren Jaeger dan kedua sahabatnya, Armin Arlert dan Mikasa Ackerman, bergabung ke korps militer Paradis. Misteri-misteri soal titan mulai terkuak, terutama setelah Eren berubah menjadi titan dan menjadi salah satu tonggak pertahanan Paradis yang bisa diandalkan.

Separuh lebih cerita AoT berputar di pertanyaan soal apa itu titan, siapa itu titan. Bersama tim korps survei Paradis, kita dibawa masuk ke dalam teka-teki titan, termasuk rahasia ayah Eren, Grisha Jaeger; rahasia keluarga kerajaan Reiss yang adalah keturunan Raja Eldian pertama, Karl Fritz; cerita masa lalu keluarga Ackerman; dan yang tak kalah penting dan mungkin juga penentu jalan cerita, siapa otak dan tubuh di balik titan yang pertama kali menghancurkan Tembok Maria.

Jawaban akan semua pertanyaan tentang titan terletak di satu prinsip plot: garis waktu yang terputus sekaligus terbelit. Garis waktu yang saya maksudkan di sini berhubungan dengan apa yang Isayama sebut sebagai “paths,” sebuah lintasan lorong bercabang yang menghubungkan semua subjek Ymir di satu wilayah transendental bernama “Coordinate” yang digambarkan seperti pohon putih besar bercabang. “Paths” menghubungkan sembilan titan yang merupakan distribusi kekuatan Ymir Fritz ketika dia meninggal dan ketiga anaknya mewarisi kekuatan itu. Di sinilah istilah titan pertama atau founding titan muncul sebagai ibu dari semua titan yang eksis dan diwariskan melalui kanibalisme atau transfer cairan tulang belakang.

Keberadaan Coordinate sebagai ruang hampa di mana Ymir dapat menciptakan titan, membuka banyak pertanyaan tentang eksistensi Ymir. Sebagai budak perempuan yang diburu di dalam hutan seperti binatang, dieksploitasi untuk membangun kerajaan imperial Eldia, dan dipaksa menjadi istri dan melahirkan tiga orang anak, Ymir melewati hidupnya dalam kondisi opresi. Bahkan hingga kematiannya, Karl Fritz hanya memikirkan kekuatan titan dan hasrat imperialismenya. Hasrat ini menemui ajalnya ketika sembilan titan sebagai subjek Ymir bertarung satu sama lain di Perang Besar Titan. Perang perebutan kekuatan ini melemahkan Kerajaan Eldia dan memungkinkan dunia di luar tembok (re: Marley) bangkit untuk memberontak. Ymir terjebak di ruang dan waktu transendental, tertunduk pada kekuatan penguasa Eldia dan konflik yang muncul karenanya bahkan ketika tubuh manusianya tidak lagi ada di dunia.

Cerita masa lalu Ymir dan kekerasan yang dialaminya terputus ketika perang mendistraksi Eldia dan Marley. Bagi keluarga kerajaan, narasi sejarah Ymir adalah narasi heroik. Ymir membangun jembatan, mengolah tanah, dan menghancurkan musuh-musuh Eldia. Namun bagi dunia luar, Ymir adalah penubuhan hasrat kekuasaan. Cerita Ymir membuat perjanjian dengan Iblis dijadikan alat propaganda Marley untuk terus-terusan memborbardir Paradis dan berperang dengan Eldia, meskipun sebagian besar penduduk Paradis tidak tahu menahu tentang titan pertitanan ini. Kekerasan Eldia terhadap Marley menciptakan trauma dan politik balas dendam berbasis ketakutan. Marley akhirnya berbalik menindas Eldia, termasuk diaspora Eldia yang sudah lama tinggal di wilayah Marley. Pertanyaan soal titan akhirnya adalah pertanyaan soal manusia dan kesemrawutan narasi sejarah yang digunakan untuk kepentingan moral dan politik.

Maka, kalimat pertama di awal chapter 1 AoT berubah menjadi pertanyaan.

Siapa yang mendominasi siapa?


What are you? A man? Or a titan?

Masa lalu Ymir yang terputus dari sejarah Eldia dan Marley tidak sepenuhnya terhapus. Di sinilah kunci penubuhan memori berada. Ketika seorang titan-shifter seperti Eren mengambil kekuatan titan lain, memori manusia yang sebelumnya mengalir ke ingatan Eren. Hal ini pun dialami Armin yang mewarisi kekuatan titan colossal dari Bertolt. Ia sesekali berbicara dengan Bertolt di ruang pikiran dan akhirnya menjalin komunikasi dengan Annie, yang adalah rekan kerja Bertolt dan Reiner ketika mereka menyusup ke Paradis. Dan ketika titan colossal terperangkap oleh kekuatan founding titan di tubuh Eren, Armin pun bertemu dengan semua subjek Ymir (mereka yang pernah memiliki kekuatan titan). Masa lalu dan masa depan terhubung melalui paths dan kembali ke Coordinate tempat Ymir berada.

Tubuh manusia dan titan Ymir mengingat kekerasan dan eksploitasi yang dialaminya selama hidup di bawah kaki Karl Fritz. Opresi membuat Ymir meninggalkan dunia material dengan kenangan buruk. Ketidakinginan Fritz untuk melepaskan kekuatan Ymir menciptakan lingkar kekerasan yang bertubi-tubi. Para pewaris darah dan daging titan hanya memiliki waktu hidup selama tigabelas tahun. Dan sepanjang sisa hidup itu, mereka menjadi senjata bagi Eldia dan Marley. Memori perbudakan, tangan dan kaki yang terpotong dan terlepas, memakan dan dimakan, darah yang berceceran, tulang yang patah dan remuk, panas tubuh yang bisa membakar kulit manusia–semua pengalaman tubuh para titan-shifter tidak hanya mengubah cara mereka berinteraksi dengan dunia di bawah kakinya, tetapi juga mengubah cara mereka berinteraksi dengan masa lalu.

Isayama membutuhkan seratus dua puluh satu chapter untuk mengungkap sejarah founding titan dan dengan sangat brilian ia memberi judul “From You, 2,000 Years Ago” untuk chapter 122, chapter awal arc terakhir AoT, di mana Eren mewarisi memori Ymir dan ingin membebaskan Ymir dari penderitaan masa lalunya. The story comes full circle. Dua ribu tahun Ymir Fritz berada di bawah bayang-bayang Raja Eldia. Dan Eren, yang sedari kecil ingin membalas kematian ibunya dengan membunuh semua titan, menggunakan kekuatannya untuk menjalankan misi pembebasan Ymir. Eren merengkuh segala pengalaman dan pengetahuan ini, menerjemahkannya dalam bentuk kemarahan.

Maka, apa yang saya sebut trans-titan, perpindahan kekuatan dan tubuh titan dari satu tubuh manusia ke tubuh manusia lain, bukan sekedar proses transfer tetapi proses transformasi bergerak menuju dunia tempat ia berada. Ingatan dan trauma yang lain bercampur dengan ingatan dan pengalaman sendiri. Pertanyaan Kitz Weilman ke Eren ketika Eren berubah menjadi titan atau tuduhan Eren terhadap Armin soal memori Bertolt yang “mendiktenya” tidak lagi relevan. Tubuh titan Eren adalah tubuh manusianya begitu juga sebaliknya; tubuh titan Armin adalah tubuh Bertolt begitu juga sebaliknya. Yang ada hanyalah penubuhan: pengambilan kepemilikan atas ruang dan waktu jasmani manusia; pembentangan masa lalu dan masa depan untuk hadir bersamaan di masa sekarang. Waktu dan ruang bukan lagi sesuatu yang terberi; tubuhlah yang menciptakan ruang dan waktu itu.


You’re no slave. You’re no god. You’re just a person. You don’t need to serve anyone. You can be the one to choose.

Memori dan tubuh Ymir terbelit bersama tubuh Eren dan titan-shifter lainnya. Belitan ini memungkinkan satu tubuh raksasa yang menggetarkan dunia (rumbling) terbentuk. Misi “pembebasan” Eren terhadap memori dan tubuh sekunder Ymir ini tentu tidak tanpa masalah. Karakter Eren, yang selalu digambarkan sebagai sosok yang meletup-letup dan sering kali fatalis (meskipun loyal terhadap teman-temannya), mencapai titik klimaksnya ketika ia memutuskan untuk menggunakan kekuatan rumbling untuk membumiratakan orang-orang Marley. Hanya ada tragedi dari keputusan Eren, keputusan yang lahir dari trauma dan ego untuk menyelamatkan dunia–meskipun dia sadar, Armin sahabatnyalah yang lebih memiliki kebijaksanaan untuk menghentikan drama titan.

Konsekuensi moral dan material Eren lahir dari “pengetahuannya” akan sejarah Ymir yang didukung oleh egonya sebagai pewaris founding titan. Di satu sisi, penubuhan memori Ymir dan trauma yang dialaminya membuat Eren dapat bergerak maju dalam spektrum titan, mengejawantahkan rumbling sebagai solusi final perdamaian dunia. Armin, di lain sisi, memilih untuk menghayati memori Bertolt dan Ymir lewat memori bahagia tubuhnya sendiri: memberi makan tupai, jajan di pasar, berlari bersama Eren dan Mikasa. Bersama dengan tubuh para titan-shifter, dan rekan-rekannya yang berjuang hidup, Armin dan Mikasa bergerak menuju dunia yang tenang dan damai.

“The sun was starting to set. The three of use were racing. Eren brought up the idea and took off out of nowhere… Mikasa ran too, but stayed behind him on purpose… And of course, I was dead last… But the breeze was nice and warm that day. Just running felt good… Leaves fluttered everywhere and for some reason, I thought then. Maybe the reason I was born was so that the three of us could racing there.”

Dua unggas terbang di langit Paradis mengitari gedung, dan mata Eren kecil terfokus ke langit itu. Sosok titan merah muncul di balik tembok. Kekerasan mengintip di balik tembok; apakah dunia tanpa titan akan tercapai? Kita tinggal menunggu akhir cerita; menunggu memori Ymir larut bersama tubuh Eren dan titan yang hancur.

Submit a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s